Lynx menghentikan langkahnya, mengangkat tangan untuk meminta yang lain berhenti juga. Ia menatap mereka satu per satu dengan serius. "Jika lorong itu benar-benar tidak dijaga, itu bisa menjadi cara kita untuk masuk tanpa terdeteksi. Apakah kalian yakin masih bisa menemukannya?"

Darek mengangguk cepat. "Tentu saja. Kami menandai pintu kayu itu dengan coretan kecil di sebelahnya. Aku bisa membawamu ke sana."

Lynx menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kerja bagus, Darek. Itu mungkin menjadi kunci bagi kita untuk menyusup dan membebaskan para tahanan."

"Tapi," tambah Ekar dengan nada hati-hati, "Lorong itu sempit dan gelap. Jika kita membawa banyak orang masuk untuk menyerang, kita mungkin akan terlalu lambat atau membuat kebisingan."

"Itu tidak masalah," kata Lynx tegas. "Yang penting kita bisa masuk tanpa mereka sadari. Setelah itu, kita pikirkan langkah berikutnya. Bawa aku kesana, kita akan selidiki lagi lorong ini."

Rafin melirik ke arah Lynx dengan rasa ragu. "Kau benar-benar yakin lorong ini bisa kita manfaatkan?"

"Apapun rencanamu, kami pasti akan selalu mendukungmu." Kata Darek dengan yakin. Dia sudah melihat kemampuan Lynx saat bertarung melawan mereka dan mampu melarikan diri dua kali dari sarang musuh.

"Tidak ada pilihan lain," jawab Lynx sambil melanjutkan langkahnya. "Kita tidak bisa menyerang langsung. Kita harus menggunakan setiap celah yang bisa kita temukan."

Mereka bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk serempak, mengikuti Lynx menuju arah yang ditunjukkan Darek. Di tengah perjalanan, Lynx merasa rencana ini mulai membentuk fondasi yang kuat untuk penyelamatan besar-besaran. Namun, ia tahu bahwa jalan ini masih penuh risiko dan kejutan yang mungkin mematikan.

Di dalam markas besar perkampungan perampok, Kronar duduk di atas kursi kayu besar yang dihias dengan ukiran kasar, menghadap Gahara yang berdiri dengan tangan terlipat di dada. Lentera-lentera minyak memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan di dinding kayu yang bergoyang-goyang mengikuti nyala api. Wajah Gahara penuh dengan kepuasan, senyuman liciknya tidak bisa disembunyikan.

"Kronar," katanya dengan nada penuh penghormatan palsu. "Kau benar-benar hebat. Menangkap kepala suku Yaksa dan Ayunga sekaligus? Itu prestasi yang luar biasa."

Kronar tertawa rendah, menyandarkan tubuh besar dan kuatnya ke kursi. "Mereka terlalu bodoh untuk menyadari jebakan sederhana. Dan sekarang, mereka ada di tangan kita."

Gahara mengangguk, matanya bersinar dengan rasa puas. "Ini lebih dari sekadar kemenangan. Dengan kepala suku dan Ayunga dalam kendalimu, aku yakin suku Yaksa akan hancur. Tanpa pemimpin, mereka akan tercerai-berai."

"Dan apa untungnya untukmu, Gahara?" tanya Kronar sambil memandang pria itu dengan tatapan tajam namun penuh rasa ingin tahu.

Gahara menyeringai, mendekati meja Kronar. "Dengan kepala suku Yaksa dan Ayunga musnah, aku bisa naik menjadi pemimpin baru suku Yaksa. Kau tahu sendiri, banyak orang Yaksa yang masih takut pada kekuatan Monrest. Jika aku menjadi kepala suku, aku bisa menjamin kerjasama penuh antara Yaksa dan kalian terutama dengan Monrest."

Kronar mengangkat alisnya. "Kerja sama penuh, katamu? Apa yang akan kau berikan sebagai jaminan?"

"Orang-orangku," jawab Gahara tanpa ragu. "Aku tahu betapa Monrest memerlukan banyak manusia untuk dijadikan pengorbanan. Dan aku tahu bagaimana Yaksa bisa digunakan sebagai penghubung transaksi di jalur sungai."

Kronar tertawa keras, suaranya menggema di ruangan itu. "Kau tidak hanya licik, Gahara. Kau juga tahu cara berpikir seperti kami. Aku suka itu."

Gahara melangkah lebih dekat, menatap Kronar dengan penuh keyakinan. "Lihatlah apa yang sudah terjadi. Kau menangkap kepala suku dan tetua yang paling mereka hormati. Itu adalah langkah pertama menuju kehancuran mereka. Tanpa mereka, aku bisa meyakinkan Yaksa untuk tunduk kepada Monrest. Dan sebagai gantinya, aku bisa menjamin suku Yaksa tidak akan pernah melawanmu."

"Dan apa lagi yang kau inginkan dariku, Gahara?" Kronar menyipitkan matanya, meskipun senyum masih menghiasi wajahnya.

"Hanya satu hal lagi," jawab Gahara. "Biarkan aku yang menentukan nasib Ayunga dan kepala suku. Mereka telah mempermalukan aku selama bertahun-tahun, memandang rendah aku hanya karena aku berbeda pendapat. Sekarang, aku ingin mereka merasakan penghinaan yang lebih besar. Aku ingin melihat penderitaan di wajah mereka."

Kronar menyeringai, tangannya mengusap-usap dagunya. "Kau benar-benar orang yang penuh perhitungan, Gahara. Tapi aku suka caramu berpikir. Jika ini berhasil, aku bisa membawa lebih banyak pengaruh kepada Monrest. Mereka akan melihatku bukan hanya sebagai pemimpin perampok, tapi juga sebagai mitra yang penting."

"Dan aku akan menjadi kepala suku Yaksa yang setia pada Monrest," tambah Gahara dengan nada licik.

Kronar berdiri, mendekati Gahara dengan langkah perlahan namun penuh otoritas. "Kalau begitu, mari kita bekerja sama. Tapi ingat, Gahara, jika kau mencoba mengkhianatiku..."

"Aku tahu, Kronar," potong Gahara dengan senyuman licik. "Aku tahu apa yang terjadi pada mereka yang mengkhianatimu."

Kronar mengangguk, lalu kembali duduk di kursinya. "Kalau begitu, aku akan memastikan kepala suku dan Ayunga tetap hidup untuk saat ini. Aku ingin melihat bagaimana kau memainkan rencanamu. Tapi pastikan ini berhasil, Gahara. Kalau tidak, kau tahu apa yang akan terjadi padamu."

Gahara membungkuk sedikit, menyembunyikan senyum kemenangan di wajahnya. "Tentu saja, Kronar. Kau tidak akan kecewa."

Ketika Gahara melangkah keluar dari ruangan, senyum lebar menghiasi wajahnya. Di pikirannya, ia sudah membayangkan dirinya duduk sebagai kepala suku Yaksa, bekerja sama dengan perampok dan Monrest untuk membangun kekuasaan yang lebih besar .

Di dalam salah satu bangunan penjara besar di perkampungan perampok, Kepala Suku Yaksa, Uban, dan Ayunga, tetua yang dihormati, duduk dengan tangan terikat di tengah ruangan. Wajah mereka penuh luka, namun mata mereka tetap memancarkan keteguhan. Dua penjaga berdiri di pintu, membawa tombak yang diarahkan ke tahanan.

"Apakah kamu melihat Gahara?" Tanya Ayunga . "Sejak pertempuran, kita tidak melihatnya. Entah bagaimana nasibnya saat ini." Katanya dengan wajah bersedih.

"Anggota kita banyak yang menjadi korban. Mungkin Gahara..." Uban tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Karena keegoisanku, ingin menyelamatkan putriku sehingga suku kita menjadi seperti ini." Ayunga merasa menyesali perbuatannya yang terburu-buru terbawa emosi.

"Sudah seperti ini, tidak ada yang perlu disesalkan. Kita suku Yaksa sangat memegang teguh persatuan." Balas Uban menghibur. "Sekarang kita harus memikirkan cara melepaskan diri dari sini." lanjutnya.

Tiba-tiba pintu kayu terbuka lebar, dan Gahara masuk dengan langkah penuh keyakinan, diikuti oleh Kronar yang menyeringai lebar. Cahaya lentera menyoroti wajah Gahara, membuat ekspresi liciknya semakin terlihat jelas.

"Lihat siapa yang akhirnya takluk," kata Gahara dengan nada penuh ejekan. Ia melangkah mendekat, menatap kepala suku dan Ayunga dengan pandangan penuh kemenangan. "Kepala Suku Uban, Ayunga yang dihormati. Ah, betapa menyedihkan melihat kalian seperti ini."

Uban mengangkat kepalanya perlahan, matanya penuh kemarahan. "Gahara... Apa maksud semua ini?"

"Kenapa kamu bersama mereka?" Ayunga bertanya dengan penasaran.

"Maksudku?" Gahara pura-pura tersenyum lebar. "Maksudku, aku akhirnya bisa menunjukkan siapa yang benar-benar pantas memimpin Yaksa. Selama ini aku bertahan di bawah perintah kalian, berpura-pura setia, mengikuti semua aturan bodoh kalian. Dan untuk apa? Hanya untuk diremehkan."

Ayunga menggeram, mencoba bangkit meskipun tangannya terikat. "Kau berani bicara seperti itu setelah semua yang kau lakukan? Kau berkhianat pada suku kita!"

"Berhenti bertingkah seperti kalian suci," jawab Gahara dengan suara tajam. "Kalian berdua tidak pernah memberi aku kesempatan untuk membuktikan diriku. Tidak peduli seberapa keras aku bekerja, aku selalu dianggap bukan siapa-siapa."

"Kami tidak pernah memperlakukanmu seperti itu," bantah Uban dengan suara penuh emosi. "Kau selalu diberi tempat di Dewan Tetua, kau selalu didengarkan!"

"Tapi kalian tidak pernah menghormatiku," potong Gahara dengan marah. "Kalian tidak pernah menganggap aku cukup baik untuk memimpin. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mengambil jalanku sendiri."

Kronar, yang berdiri di belakang Gahara, tertawa kecil. "Aku harus mengatakan, orang ini benar-benar pintar. Aku belum pernah melihat seseorang secerdik dia."

Uban menatap Gahara dengan tajam. "Dan sekarang kau bekerja sama dengan perampok? Apa kau tidak punya kehormatan?"

